Lembaga Pemasyarakatan Khusus Narkotika di Balikpapan | BAB III (Lanjutan 2) - samuelamtiur
Lembaga Pemasyarakatan Khusus Narkotika di Balikpapan | BAB III (Lanjutan 2)

Lembaga Pemasyarakatan Khusus Narkotika di Balikpapan | BAB III (Lanjutan 2)

Share This
III.2.2. Analisis Pencapaian Dan Sirkulasi Eksternal
Analisis pencapaian menyangkut masalah sirkulasi menuju ke site. Hal yang menjadi dasar pertimbangan dalam analisis pencapaian ini antara lain:

•    Kenyamanan, kemudahan serta keamanan untuk menuju ke site.
•    Sirkulasi untuk menuju ke site harus jelas sehingga tidak menimbulkan crossing.
•    Posisi penempatan massa bangunan dan Penerangan
•    Material dan permukaan tekstur yang dihasilkan.




A.    Kondisi Eksisting
Satu-satunya jalan untuk mencapai site adalah Jalan Iswahyudi, baik dari kota (Klandasan) maupun dari Bandara sepinggan dan Samboja. Jalan tersebut merupakan jalan arteri  utama menuju Balikpapan kota. Fasilitas bagi pejalan kaki berupa trotoar telah terdapat pada kedua di sisi jalan sekitar site, sehingga lebih dimudahkan dalam berjalan kaki.

B.    Pengaruh Pencapaian terhadap Fungsi dan Kegiatan
Pencapaian merupakan tahap awal dari suatu sistem sirkulasi di dalam suatu kawasan/bangunan. Pendekatan pencapaian dapat mengarah langsung, tersamar dan berputar. Pendekatan yang digunakan sesuai dengan efek visual yang diharapkan.
Lapas khusus narkotika ini dalam kaitannya dengan pencapaian maka memerlukan hal-hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu:
•    Kejelasan akses masuk dari setiap jalur sirkulasi.
•    Adanya penanda visual yang jelas pada akses pencapaian.
•    Faktor keamanan akses dan desain sirkulasi.
Para karyawan (sipir) yang bekerja di Lapas ini mempunyai jam-jam sibuk tertentu dan tidak setiap saat. Jam-jam sibuk hanya terjadi pada:
•    Pagi hari di saat sipir yang bekerja datang untuk melakukan kegiatan administrasi dan
•    Sore hari disaat para sipir selesai bekerja dan kembali kerumah masing-masing, namun bagi sipir yang kena piket jaga, akan tetap berada di Lapas sampai esok harinya.
•    Di saat-saat tertentu dimana terjadi peristiwa-peristiwa khusus yang memerlukan kesibukan yang diluar keseharian (contoh: datangnya pejabat negara untuk berkunjung).

C.    Analisis


Analisis pencapaian bertujuan untuk mementukan entrance site dan sifat pencapaian terhadap tiap zona kegiatan. Satu-satunya jalur sirkulasi menuju site adalah jalan Iswahyudi, sehingga main entrance (ME) site berada pada sisi site yang berbatasan langsung dengan jalan tersebut. Dari tinjauan di atas, perlu dibedakan pencapaian antara pengunjung dan intern agar sirkulasi bisa tercapai dan lancar. Pencapaian para pengunjung lebih potensial bila diletakkan pada daerah yang menghadap jalan raya utama, yaitu jalan Iswahyudi, yang mempunyai intensitas kendaraan tinggi. Sedangkan untuk kendaraan intern dan servis diletakan pada jalan tersendiri di dalam site.

III.2.3. Analisis Kebisingan
Analisis kebisingan bertujuan untuk memperoleh zoning begi setiap kegiatan ditinjau dari tingkat tuntutannya terhadap faktor ketenangan. Hal yang perlu dipertimbangan adalah:
•    Perletakan dan penataan ruang berdasarkan kebisingan.
•    Kenyamanan pelaku didalam bangunan terhadap sumber kebisingan.

A.    Sumber Kebisingan
Sumber kebisingan hanya berasal dari aktivitas lalu lintas karena lokasinya yang berada pada sisi jalan arteri yakni jalan Iswahyudi sebagai jalan utama yang ada disekitar site. Sumber kebisingan tersebut berupa suara kendaraan roda dua dan mobil, selain itu juga bising dari pesawat karena letak site dekat dengan bandar udara Sepinggan. Namun, kebisingan tersebut tidak menimbulkan dampak yang besar terhadap perancangan Lembaga Pemasyarakatan Khusus Narkotika.
Sedangkan, sumber kebisingan yang berasal dari dalam Lapas sendiri yaitu dari Balai Latihan Kerja bagi para narapidana tidak terlalu mengganggu karena kebanyakan dari kebisingan tersebut sudah dapat diredam karena jarak dan lokasi yang berbatasan dengan lahan kosong.

B.    Pengaruh Kebisingan terhadap Fungsi dan Kegiatan
Tingkat kebutuhan ketenangan setiap kegiatan di dalam Lapas berbeda-beda tergantung kegiatan yang menjadi aktivitasnya. Kegiatan administrasi bagi para sipir yang bekerja pada bagian kantor utama membutuhkan ketenangan yang baik karena pada kegitan ini memiliki tanggung jawab mengenai administrasi Lapas tersebut. Ketenangan juga diperlukan pada bagian Blok hunian narapidana dan bagian poliklinik serta ruang pembinaan. Sedangkan zona Balai Latihan Kerja (BLK) justru menghasilkan kebisingan namun tidak mempengaruhi lingkungan sekitar karena tidak terdapat tetangga yang berdekatan dengan site.

C.    Analisis


Bangunan pada sisi site yang berbatasan dengan jalan primer dan sekunder dapat dimundurkan lebih jauh dari sumber bising. Ruang-ruang yang bersifat privat dapat diletakkan lebih jauh dari sumber bising daripada ruang-ruang yang bersifat publik. Hal ini untuk menurunkan intensitas kebisingan yang diterima ruang-ruang privat.
Rambatan suara dari lingkungan dapat pula direduksi dengan barrier suara. Barrier dapat berupa dinding/pagar pembatas yang bersifat permanen atau barrier vegetasi. Pada sisi yang berbatasan dengan Kantor utama, dapat diterapkan barrier berupa dinding pembatas dan vegetasi. Sedangkan pada sisi yang berbatasan dengan jalan dapat juga menggunakan barrier berupa dinding pembatas pagar bangunan yang berbentuk masif selain untuk faktor keamanan. Vegetasi sebagai barrier alami lebih tepat untuk digunakan.
Selain dari lingkungan di luar site, sumber kebisingan juga datang dari kegiatan di dalam site. Dengan sifat kegiatan yang berbeda-beda di dalam Lapas, kegiatan yang satu dapat mengganggu kegiatan yang lain jika tidak diantisipasi, namun sumber kebisingan di dalam site hanya berasal dari BLK yang kegiatannya berlangsung dari pagi hingga sore hari. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu penzoningan terhadap massa dan ruang berdasarkan sifat kegiatannya selain itu juga penerapan pada material dan finishing bangunan. Dengan demikian, setiap zona kegiatan tidak secara langsung berhubungan. Pemisahan antar massa dapat berupa ruang-ruang terbuka/pertamanan (jika memungkinkan) sehingga intensitas kebisingan berkurang.

III.2.4.  Analisis View

Analisis view bangunan bertujuan untuk membentuk penampilan bangunan dilihat dari pengamat (view in). Analisis view bangunan terbagi menjadi dua yakni view in dan view out. Ada berbagai pertimbangan yang digunakan analisis view bangunan, yaitu:
1)    View in
•    Daerah yang mendapat tangkapan terbesar dari pengamat.
•    Kenyamanan pandangan oleh pengamat dari luar bangunan.
2)    View out
•    Kesesuaian terhadap akses pencapaian dari main enterance (ME).
•    Keamanan, agar narapidana tidak kabur, perlu adanya batasan melihat view out dari site.

A.    View Eksisting Site
Analisis terhadap view mempertimbangkan orientasi terbaik dari bangunan sehingga pengolahan fasade dapat maksimal. Kondisi di sekitar site sebagian besar masih berupa lahan kosong dan hanya terdapat sebuah bangunan kosong pada bagian belakang bangunan serta Jalan arteri pada bagian depan site. Jalan Iswahyudi merupakan satu-satunya jalan utama untuk menuju site. Pada bagian timur site berbatasan dengan lahan kosong dan pada bagian barat site juga berbatasan dengan lahan kosong.

B. Pengaruh View terhadap Fungsi dan Kegiatan
Pertimbangan view dipengaruhi oleh tingkatan keamanan dan perletakan fungsi bangunan. Pada bagian tingkatan keamanan Low Security (publik) adalah pada bangunan kantor utama dapat memaksimalkan view in maupun view out. View pada medium security (semi privat) tidak perlu dimaksimalkan. Sedangkan view pada maximum security (privat)  perlu dibatasi dan diperkecil kemudahan akses view-nya karena merupakan bagian vital dari sistem keamanan di Lapas. Taman dan ruang luar dapat membantu view yang baik bagi Lapas untuk menghilangkan kesan kakunya sebuah Lapas.

C. Analisis



View terbaik dari bangunan dapat ditangkap dari arah jalan. Pada sisi jalan sebagai arah view terbaik, perletakan bangunan bersifat low security (publik) menjadi area masuk bagi orang yang datang baik itu petugas Lapas (sipir) maupun pembesuk. Kantor Utama terdapat dalam area ini. Untuk medium security dan maximum security perlu dijauhkan dari area ini untuk menunjang faktor keamanan bagi Lapas itu sendiri.


III.2.5.  Zoning
Berdasarkan analisis pada tapak yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan:
•    Area Parkir Pengunjung, diletakkan pada daerah sepanjang sisi tapak yang berdekatan dengan jalan utama, yaitu jalan Iswahyudi (faktor keamanan).
•    Area parkir bagi petugas dan pengelola Lapas (sipir) dapat diletakan pada bagian depan site yang menghadap ke jalan Iswahyudi namun perlu dipisahkan bagi parkir pengunjung (pembesuk). Hal ini dimaksudkan untuk lebih mempermudah dalam sirkulasi di dalam site.
•    Open Space (taman) diletakan pada sepanjang sisi site namun pada bagian sisi samping kiri, samping kanan dan belakang tidak boleh terdapat pepohonan yang berdekatan dengan bangunan sebagai faktor keamanan bagi Lapas. Pada bagian depan site dimaksudkan untuk menyaring udara yang ada dan mengurangi kebisingan.
•    Open space (di dalam Lapas) berupa halaman terbuka di letakkan pada pusat perletakkan massa, ini dimaksudkan untuk mempermudah pengawasan petugas sipir juga dapat digunakan dalam kegiatan upacara.
•    Penzoningan area di dalam gedung itu sendiri dilakukan berdasarkan fungsi dan etos kerja di dalamnya. Sehingga dapat memaksimalkan kegunaan dari bangunan tersebut.

No comments:

Post a Comment