Pra-rancangan Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik Pasar Klandasan Kota Balikpapan | BAB II (Lanjutan 4) - samuelamtiur
Pra-rancangan Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik Pasar Klandasan Kota Balikpapan | BAB II (Lanjutan 4)

Pra-rancangan Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik Pasar Klandasan Kota Balikpapan | BAB II (Lanjutan 4)

Share This
Jenis pengadukan dalam pengolahan air dapat dikelompokkan berdasarkan kecepatan pengadukan dan metoda pengadukan. Pengadukan pneumatis adalah pengadukan yang menggunakan udara (gas) berbentuk gelembung yang dimasukkan ke dalam air sehingga menimbulkan gerakan pengadukan pada air. Injeksi udara bertekanan ke dalam suatu badan air akan menimbulkan turbulensi akibat lepasnya gelembung udara ke permukaan air.

Makin besar tekanan udara, kecepatan gelembung udara yang dihasilkan makin besar dan diperoleh turbulensi yang makin besar pula. Besarnya tenaga untuk operasi pengadukan akan mempengaruhi besarnya gradien kecepatan yang dihasilkan. Bila suatu sistem pengadukan telah ditentukan nilai gradien kecepatannya, maka tenaga pengadukan dapat dihitung.



                                                  Gambar 2.1. Pengadukan Pneumatis

Jenis pengadukan hidrolis yang digunakan pada pengadukan lambat, berbeda dengan pengadukan cepat. Pada pengadukan lambat, energi hidrolik yang diharapkan cukup kecil dengan tujuan menghasilkan gerakan air yang mendorong kontak antar partikel tanpa menyebabkan pecahnya gabungan partikel yang telah terbentuk. Jenis aliran yang sering digunakan sebagai pengadukan lambat adalah baffle channel.


                                          Gambar 2.2. Flokulator Tipe Baffle Channel
Flokulator umumnya dibuat secara seri seiring penurunan nilai kecepatan agar diperoleh pencampuran sempurna, yaitu partikel dapat saling berkontak, sehingga diperoleh hasil akhir yang memuaskan. Total waktu detensi yang diperlukan untuk flokulator secara seri maksimum 45 menit.

2.5.5. Bak Sedimentasi
Masduqi dan Slamet (2002) mengatakan sedimentasi adalah pemisahan solid-liquid menggunakan pengendapan secara gravitasi untuk menyisihkan suspended solid. Pada umumnya, sedimentasi digunakan pada pengolahan air minum, pengolahan air limbah dan pada pengolahan air limbah tingkat lanjutan. Pada pengolahan air minum, terapan sedimentasi khususnya untuk :

  • Pengendapan air permukaan, khususnya untuk pengolahan dengan filter pasir cepat.
  • Pengendapan flok hasil koagulasi-flokulasi, khususnya sebelum disaring dengan filter pasir cepat.
  • Pengendapan flok hasil penurunan kesadahan menggunakan soda-kapur.
  • Pengendapan lumpur pada penyisihan besi dan mangan.
Pada pengolahan air limbah, sedimentasi umumnya digunakan untuk :
  • Penyisihan grit, pasir atau silt (lanau).
  • Penyisihan padatan tersuspensi pada clarifier pertama.
  • Penyisihan flok / lumpur biologis hasil proses activated sludge pada clarifier akhir.
  • Penyisihan humus pada clarifier akhir setelah trickling filter.
Pada pengolahan air limbah tingkat lanjutan, sedimentasi ditujukan untuk penyisihan lumpur setelah koagulasi dan sebelum proses filtrasi. Selain itu, prinsip sedimentasi juga digunakan dalam pengendalian partikel di udara.

Sedangkan Siregar (2005) berpendapat bahwa sedimentasi adalah pemisahan partikel dari air dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Proses ini terutama bertujuan untuk memperoleh air buangan yang jernih dan mempermudah proses penanganan lumpur. Dalam proses sedimentasi hanya partikel-partikel yang lebih berat dari air yang dapat terpisah, misalnya : kerikil dan pasir, padatan pada tangki pengendalian primer, biofloc pada tangki pengendapan sekunder, floc hasil pengolahan secara kimia dan lumpur (pada pengentalan lumpur).

Dalam sedimentasi, proses ini mengurangi beban air limbah sebesar 76,15% SS dan 40% BOD (Siregar, 2005).

2.5.6. Bak Penampung Akhir

Bak penampung ini berfungsi sebagai penampung air yang sudah melalui pengolahan sekaligus sebagai bak kontrol untuk memeriksa apakah limbah telah layak untuk dibuang (Met Calf and Eddy, 2003).

2.5.7. Bak Pengering Lumpur
Proses pengolahan air minum atau air limbah hampir selalu menghasilkan lumpur. Jenis lumpur yang dihasilkan instalasi pengolahan air meliputi :
  • Lumpur diskret
  • Lumpur koagulasi alum
  • Lumpur hasil pelunakan air
  • Lumpur dari pencucian filter (backwash)
  • Lumpur presipitasi besi dan mangan
  • Lumpur biomassa dari proses biologis
Lumpur-lumpur diatas harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan. Pengolahan lumpur meliputi proses thickening, stabilization, conditioning, dewatering dan disposal.
Dewatering atau pengeringan lumpur adalah penyisihan sejumlah air dari lumpur dengan tujuan untuk mengurangi volume lumpur. Dewatering merupakan bagian dari rangkaian proses pengolahan lumpur. Metoda dewatering meliputi filter presses, belt presses, centrifugation, vacuum filtration dan sludge drying bed (Masduqi dan Slamet, 2002).

2.5.8. Pipa Inlet dan Pipa Outlet
Menurut Saraswati (1996), untuk menghitung dimensi pipa inlet dan pipa outlet digunakan rumus sebagai berikut :

Luas Permukaan Pipa (A) = Q/V     (2.1.)
Diameter Pipa (d)     = √(A/(1/4 π))     (2.2.)
Dengan :
Q = Debit limbah cair (m3 / detik).
V = Kecepatan aliran.

Air limbah domestik rata-rata berasal dari sisa penggunaan air bersih dengan perkiraan debit rata-rata sebesar antara 70% - 80%. Kecepatan aliran dalam saluran harus cukup untuk mencegah terjadinya endapan. Kecepatan minimum untuk self-cleaning adalah 0,6 m/detik dan kecepatan aliran maksimum tidak boleh melebihi 3 m/detik untuk mencegah terjadinya pengikisan di dalam saluran (PT. Archeas, 2008).

Densitas dari air limbah adalah 1,0 sampai 1,03 g/cm3 dan densitas dari lumpur aktif adalah sekitar 1,0 g/cm3. Densitas dari padatan lumpur kering adalah 1,2 sampai 1,4 g/cm3. Air limbah pada konsentrasi padatan adalah diatas 5% dan lumpur aktif pada konsentrasi padatan diatas 3% (Turovskiy and Mathai, 2006).

No comments:

Post a Comment