Makan di Kota Bamako, Mali - samuelamtiur
Makan di Kota Bamako, Mali

Makan di Kota Bamako, Mali

Share This
Sekarang saya akan menceritakan pengalaman saya tentang makanan yang saya konsumsi disini.

Mali hampir sama dengan Indonesia, disini terdapat nasi yang juga menjadi makanan pokok penduduk lokal. saya belum pernah mendapatkan info dari mana beras mereka berasal, namun dari minimarket yang biasa saya kunjungi terdapat beras yang merupakan produksi perusahaan lokal.

Pertama kali saya makan disini adalah di restaurant Prancis yang bernama "Le 365" yang satu gedung dengan hotel "Le Campagnard". Restaurant ini bergaya Prancis dan seperti yang kita tau bahwa menu-menu nya juga merupakan makanan Prancis. Tidak sesuai dengan yang diharapkan perut dan kantong. Hahaha...


Le 365

Akhirnya saya memesan salah satu menu yang merupakan ikan dan meminta tambahan nasi satu porsi. Rasa ikannya tidak manis, karena mungkin tidak segar seperti Indonesia, karena ikan laut disini diimpor dari Senegal, karena Mali tidak memiliki laut.
Setelah selesai makan, saya membayar tagihan saya sebesar 9000 CFA (saat itu 1 CFA sama dengan 23,7 IDR). Lumayan terasa di kantong. Hahahaha...

Bermodalkan Google Maps, saya mencari restaurant yang lain yang harga nya tidak semahal di restaurant Prancis namun tetap higenis. Karena disini yang utama adalah kehigenisan makanan tersebut. Sekedar informasi, debu disini sangat banyak, debu berasal dari angin yang membawa dari gurun dan debu yang berasal dari jalanan karena masih banyak jalanan disini yang belum ada asapal atau cor semen.

Nasi Goreng China
Menu Tahu

Setelah menemukan restaurant "Peking" yang merupakan restaurant China, maka saya berjalan kaki kesana dan memang terdapat menu nasi, yaitu nasi goreng yang cukup complete karena didalamnya terdapat daging sapi, sayur dan wortel. Harganya cukup bersahabat dikantong, sebesar 3500 CFA. Saya juga pernah memesan menu Tofu yang harganya 4500 CFA beserta nasi putih nya.

Nasi Goreng Lokal

Makanan di kantin kantor merupakan menu lokal yang "harus dipaksakan" masuk kedalam perut walaupun rasanya tidak cocok di lidah saya, yang penting menu tersebut ada nasinya. Lauk utama disini adalah daging sapi dan daging kambing, sehingga peternakan disini sangat banyak dan lumayan menghasilkan bagi warga lokal.

Sekarang perut saya sudah mulai menyesuaikan dengan rasa makanan disini dan semoga semakin kuat dalam menerima aneka makanan yang ada. Tuhan memberkati.

No comments:

Post a Comment